IMUNISASI: Pj Gubernur Banten saat menghadiri launching BIAN tingkat Provinsi Banten, di RSUD Banten, Senin (1/8). (BIRO ADPIM pemprov banten)
Selisih 693.180 Jiwa
SERANG–Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan 1.591.357 balita di Banten mendapat imunisasi. Jumlah ini berbeda jauh dari data lapangan yang diperoleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten.
Berdasarkan data Dinkes Banten, hasil pemetaan di lapangan hanya terdapat 898.177 balita untuk diimunisasi atau terdapat selisih 693.180 orang dari target Kemenkes.
Kepala Dinkes Provinsi Banten dr Ati Pramudji Hastuti mengakui kesenjangan antara target dari Kemenkes dengan data lapangan yang diperoleh Dinkes Banten.
Dia mencontohkan, seperti sasaran imunisasi campak rubella. Imunisasi yang untuk balita usia 9 sampai 59 bulan tanpa memandang status imunisasinya ini ditargetkan berjumlah 931.739 balita. Sementara data ril hasil pemetaan 534.349 balita. “Maka ada kesenjangan 300 ribu. Harus kerja keras mencari sesuai arahan pusat,” kata Ati usai launching BIAN tingkat Provinsi Banten di RSUD Banten, Senin (1/8).
Lalu, lanjut Ati, ada imunisasi kejar bagi usia 12 sampai 59 bulan yang diperuntukkan bagi balita yang belum lengkap status imunisasinya. Seperti imunisasi OPV, IPV, dan DPT-HB-Hib. Untuk IPV, Kemenkes menetapkan sasaran 476.485 balita, sedangkan data ril di lapangan hanya 90.050 balita. Sedangkan untuk OPV, Kemenkes menetapkan 148.480 balita, sementara data ril di lapangan 138.814 balita. “Ada gap lagi yang harus dicari,” ungkap mantan Direktur Utama RSUD Kota Tangerang ini.
Ati menambahkan, Kemenkes juga menetapkan sasaran imunisasi DPT yakni sebanyak 34.653 balita. Sedangkan berdasarkan data ril di lapangan, jumlahnya lebih banyak, yakni 134.964 balita belum diimunisasi DPT.
Terlepas dari kesenjangan data sasaran imunisasi, Ati menargetkan dalam
Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) ini mulai 1 sampai 31 Agustus mendatang, sasaran imunisasi wajib selesai. “Dalam waktu satu bulan, target minimal 95 persen dari hampir 1,6 juta anak,” ujar Ati.
Lalu, pada 1 sampai 14 September, Dinkes mempunyai waktu untuk sweeping apabila ada sasaran yang belum tercapai. Dinkes akan dibantu kader organisasi profesi dari tingkat kabupaten/kota, organisasi kemasyarakatan, dan institusi pendidikan.
Menurut Ati, pelayanan imunisasi bisa dilakukan di semua fasilitas layanan kesehatan yang bekerja sama, seperti klinik, posyandu, bidan praktek, dan dokter praktek. “Gratis. Wajib gratis imunisasi program,” tegasnya.
Kata dia, imunisasi rutin dilakukan untuk mencegah penyakit yang menimbulkan kejadian luar biasa (KLB). Contohnya penyakit difteri seharusnya tidak ada, tapi setelah dua tahun lalu mengalami penurunan, kini kasus difteri ada lagi. “Begitu juga campak rubella harusnya sudah tidak ada. Tahun 2023 seluruh provinsi harus bebas campak rubella,” ujar Ati.
Sementara itu, Penjabat Gubernur Banten Al Muktabar berharap dengan peluncuran BIAN ini, anak-anak Banten akan memiliki daya tahan tubuh yang baik dan kebal. “Khususnya tadi yang kita launching di polio dan ini bagian dari jalan upaya kita ikhtiar untuk menyiapkan generasi ke depan yang lebih mampu dan lebih tangguh,” ujarnya.
Al mengatakan, dengan imunisasi, maka semua pihak menyiapkan generasi Indonesia, khususnya di Banten yang baik. “Maka kita bisa berharap Indonesia dan Banten khususnya bisa lebih maju,” tuturnya.
Selama satu bulan penuh pelaksanaan BIAN, anak-anak Banten bisa mengakses layanan imunisasi secara gratis. “Kami mengimbau kepada orang tua kiranya berkenan untuk melakukan imunisasi anak-anak tercintanya karena dengan imunisasi diharapkan anak-anak kita bisa tumbuh sehat. Dengan tumbuh sehat diharapkan generasi muda bisa lebih baik,” tegas Al.
Tempat pelayanan imunisasi dilakukan di puskesmas, rumah sakit, klinik, posyandu, dan juga didukung oleh Tim Penggerak PKK dan kader untuk upaya percepatan imunisasi.
DI BAWAH NASIONAL
Sementara capaian cakupan Imunisasi Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di Kabupaten Pandeglang masih di bawah target nasional. Dinkes Kabupaten Pandeglang berdalih capaian tersebut lantaran terkendala pandemi Covid-19.
Kadinkes Kabupaten Pandeglang Raden Dewi Setiani mengatakan, target IDL tingkat nasional sebesar 95 persen.
“Pada tahun 2020 IDL Kabupaten Pandeglang sebesar 88,9 persen dan pada tahun 2021 turun mejadi 66,2 persen,” katanya kepada Radar Banten, di Kolam Renang Dema Tirta (DM), Kecamatan Mandalawangi, kemarin.
Menurutnya, pandemi Covid-19 menyebabkan pelaksanaan imunisasi rutin tidak berjalan optimal. Sehingga, capaian cakupan IDL terjadi penurunan.
“Baik itu imunisasi dasar maupun imunisasi lanjutan, yang cukup signifikan. Hal ini menyeyababkan jumlah anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi rutin lengkap sesuai usia semakin bertambah banyak,” katanya.
Penurunan cakupan tersebut dapat di lihat dari adanya peningkatan jumlah kasus penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) dan terjadinya KLB PD3I seperti campak, rubela dan difteri di beberapa wilayah.
“Sehubungan dengan hal itu, dibutuhkan kegiatan imunisasi tambahan dan imunisasi kejar guna menutup kesenjangan imunitas di masyarakat
Pandeglang. Upaya tersebut dilaksanakan melalui kegiatan yang dinamakan Bulan Imunisasi Anak Nasional di Kabupaten Pandeglang,” katanya.
Tujuan kegiatan BIAN ini untuk mencapai dan mempertahankan kekebalan populasi yang tinggi dan merata sebagai upaya mencegah terjadinya KLB PD3I.
“Melaksanakan kegiatan imunisasi kejar berupa pemberian satu atau lebih jenis imunisasi untuk melengkapi status imunisasi anak usia 12 sampai dengan 59 bulan. Dengan sasaran vaksinasi imunisasi campak-rubella usia 9-59 bulan tanpa melihat status imunisasi yang telah diterima sebelumnya sebesar 90.974 anak. Di 35 Kecamatan dan 1.898 Posyandu,” katanya.
Sementara imunisasi kejar untuk usia 12-59 bulan yang tidak atau belum lengkap imunisasi OPV (Oral Polio vaccine), IPV, (Injection Polio Vaccine), dan DPT-HB-Hib. Jumlah balita ini mencapai 7749 anak, untuk IVP sebanyak 23.496 balita, vaksin DPT atau HE mencapai 10.300 balita.
“Yang menjadi sasaran imunisasi kejar dan harus dilengkapi imunisasinya pada pelaksanaan BIAN sekarang ini. Target dari pusatnya adalah 95 persen, dan kegiatan vaksinasi ini harus betul-betul didukung oleh semua pihak,” katanya.
Bupati Pandeglang Irna Narulita mengakui, selama pandemi Covid-19 melanda, Pemkab Pandeglang belum pernah melakukan vaksin terhadap anak dan balita.
“Harusnya ada vaksinasi, karena Covid-19, mereka tidak bisa keluar. Harusnya melakukan imunisasi rutin,” katanya.
Irna mengimbau seluruh stakeholder dan masyarakat mengajak ibu yang memiliki balita agar melakukan imunisasi. Bisa mengimunisasinya di 1898 gerai posyandu,” katanya.
Dia juga mengajak tenaga kesehatan (nakes), hingga perangkat pemerintahan tingkat desa serta masyarakat menyukseskan BIAN.
“Tidak hanya BIAN kita juga harus menyukseskan bulan penimbangan balita. Kepada ibu - ibu yang memiliki anak bayi dan balita harus aktif membawa anaknya ke posyandu,” katanya. (nna-mg-01/nda)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GEN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
- NUSANTARA metro disway
- FOKUS DISWAY
