DECEMBER 9, 2022
Utama

Ditendang Dua Kali, Tulang Kepala Retak

post-img

Perkelahian Santridi Ponpes

Daar El Qolam Jayanti

Pihak Ponpes Perketat Pengawasan

JAYANTI – Seorang santri berinisial BD (15) tewas di Pondok Pesantren Daar El Qolam, Jayanti, Kabupaten Tangerang, pada Minggu (7/8/) siang. Ia diduga tewas usai berkelahi dengan santri lainnya berinisial RE (15).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kronologi tewasnya santri tersebut dipicu oleh hal sepele. Saat itu, korban yang sedang berada di dalam kamar mandi di­buat kesal oleh pelaku RE karena diduga sengaja men­dorong pintu hingga mengenai bagian tubuh korban.

Tak terima dengan perbuatan tersebut, korban lantas berkelahi dengan pelaku. Usai melakukan perkelahian tersebut, korban kemudian bergegas memasuki kamarnya. Namun, korban masih saja melakukan provokasi dan terjadilah insiden yang menewaskan BD tersebut. Di kamar, RE diketahui menendang dua kali BD di bagian kepala yang kemudian memicu korban tak sadarkan diri kemudian meningga dunia.

Kemarin, Polresta Tangerang telah menangani kasus santri Ponpes Daar El Qolam tersebut.

Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Raden Romdhon Natakusuma mengatakan, berdasarkan penuturan para saksi, peristiwa penganiayaan tersebut bermula saat pelaku RE (15) seorang laki-laki mencari santri DS (15) laki-laki yang kebetulan berada di kamar mandi bersama dengan korban Bintang Daffa (BD) (15) laki-laki pada Minggu (7/8) sekitar pukul 06.25 WIB. 

Romdhon mengatakan, hasil penyelidikan ta­hap awal yang diperoleh dari keterangan dan guru Ponpes menyatakan bahwa korban meninggal dunia akibat perkelahian sesama santri.

“Berdasarkan keterangan guru dan pengasuh yang mengantar, korban meninggal diduga karena berkelahi sesama santri,” kata Romdhon.

Romdhon mengungkapkan, kejadian awal pemicu perkelahian antara kedua santri ter­sebut. “Berdasarkan keterangan dari sak­si awal mula pemicu perkelahian antara RE (15) dan BD (15) diawali dengan pelaku RE (15) mencari santri DS (15) yang kebetulan sedang mandi berdua bersama korban BD (15). Saat RE (15) membuka pintu tidak sengaja mengenai korban BD (15), karena kesal korban memakai baju dan berteriak kepada RE (15) dan terjadi perkelahian. Perkelahian tersebut dipisahkan oleh beberapa santri yang berada di TKP,” jelas Raden.

Sekitar pukul 06.35 WIB pelaku RE (15) mendatangi kamar korban dan langsung menendang bagian kepala korban sebanyak dua kali dan langsung dipisahkan kembali oleh para santri.

Kemudian, akibat dari perbuatan pelaku RE (15) korban BD (15) mengalami sakit kepala. “Akibat perbuatan RE (15) korban BD (15) mengalami sakit dibagian kepala dan tidak masuk kelas. Karena tidak sadarkan diri sekitar pukul 14.00 Wib korban dibawa oleh pengasuh ke Klinik Fita Farma Ta­ngerang,” ucapnya.

Saat sedang melakukan penanganan di Klinik Fita Farma Tangerang, korban dinya­takan pada tubuh BD (15) sudah ada tanda-tanda kematian, sehingga korban oleh pengasuh Ponpes dibawa ke RSUD Balaraja untuk memastikan lebih jelas kondisi korban.

“Untuk saat ini pihak kepolisian masih mendalami keterangan saksi-saksi dan hasil pemeriksaan medis terhadap tewasnya santri Pondok Pesantren modern Dasar El Qolam, Tangerang tersebut,” pungkas.

Senada, Camat Kosambi Dadang Sudrajat turut berduka cita atas wafatnya BD, karena korban adalah warga Desa Rawa Burung, Kecamatan Kosambi.

“Saya mengetahui berita tersebut cukup kaget, dan Alhamdulilah kami pihak keca­matan sudah bertakziah ke kediaman adinda BD,” ujarnya 

Meski demikian, ini merupakan peristiwa yang membuat publik terenyuh, dan sangat disa­yangkan atas kejadian tersebut.

“Kiranya pondok pesantren bisa meng­eva­luasi atas kejadian ini, dan bagi orang tua yang terkadang menengok anaknya satu minggu sekali di pondok pesantren, di mana saja. Patutlah menanyakan kondisi terbaru anaknya saat di pesantren,” harapnya.

Sementara, Sekretaris pengurus pondok pesantren Daar El Qolam, Ahmad Idrus mengungkapkan, kejadian tersebut adalah sebagai musibah yang datang tanpa kita rencanakan, dan kejadian ter­sebut merupakan kejadian perke­lahian murni satu lawan satu. Bukan pengero­yokan seperti yang beredar di luaran.

“Namun demikian, dengan kejadian tersebut kami akan lebih memperketat penga­wasan terhadap santri di lingku­ngan pondok pesantren,” singkatnya.


TULANG KEPALA RETAK

Sementara itu, dari hasil autopsi di RSUD Balaraja, jasad santri berinisial BD meng­alami kerusakan dan penyum­batan di pembuluh darah.

Hal tersebut diungkapkan Kanit Identifikasi Inafis Polresta Tangerang, Aiptu Ardiansyah di RSUD Balaraja, Senin (8/8).

Hasil autopsi mengungkapkan korban alami keretakan bagian tulang kepala hingga memar leher. Hal itu yang menyebabkan BD kehilangan kesadaran dan meninggal perlahan.

Ardiansyah menyebutkan, pada bagian leher korban terdapat memar. Juga di sekitar mulut serta bagian wajah. Namun yang paling parah akibat di area kepala retak dan merusak pembuluh darah.

“Tulang kepala pecah sehingga pem­buluh darahnya mengalami keru­sakan dan menyumbat aliran oksigen ke bagian paru-paru serta jantung,” ujarnya.

Dia mengatakan tidak ditemukan adanya luka dari benda tumpul dan luka yang dialami korban murni karena pemukulan.

“Tidak ditemukan dugaan karena benda tumpul, murni ini pemukulan. Kemungkinan kuat korban ditendang dan dipukul keras,” bebernya.

Hasil autopsi, lanjutnya, terdapat tiga bagian luka yang cukup serius. Yaitu, bagian leher memar cukup parah dan bagian mulut dan wajah lebam dan retaknya tulang kepala.

Dia menuturkan tidak ada luka lain di bagian tubuh korban, “Enggak ada luka di bagian tubuh korban cuma yang cukup parah itu di leher sampai muka. Le­her itu kan bagian jalannya aliran ok­sigen dari otak ke paru-jantung dan seba­liknya. Karena rusaknya pembuluh da­rah korban kekurangan oksigen dan me­ninggal,” tuturnya. (mul-kabar6.com/air)