Di era digital, banyak anak-anak tidak mengenal kesenian dan kebudayaan warisan para leluhur. Hal itu terjadi karena di era digital banyak anak lebih memilih bermain game di handphone dibandingkan memainkan alat musik tradisional.
Seperti alat musik Rampak Bedug khas Banten. Bukan hanya alat Rampak Bedug yang langka, tapi lebih langka lagi para pemainnya.
Menurut Ketua Sanggar Seni Harum Sari Endang Suhendar, era digital atau era teknologi telah menggerus kreatifitas anak-anak saat ini.
"Sedari masih kecil mereka lebih memilih bermain handphone ketimbang memainkan alat musik tradisional. Kondisi ini kalau dibiarkan tentunya akan membuat mereka kehilangan jati diri sebagai anak Indonesia umumnya dan khususnya Pandeglang," katanya kepada Radar Banten, kemarin.
Menjadikan mereka tidak mengenali lagi warisan seni dan budaya para leluhurnya. Oleh karena itu, dibutuhkan peran semua pihak untuk dapat mempertahankannya dengan memotivasi dan mengajak mereka untuk mau mempelajarinya.
"Salah satu seni musik warisan leluhur, yakni Rampak Bedug yang telah ada sejak 1979 dan Sanggar Harum Sari terus mengembangkan dan melestarikan Rampak Bedug hingga saat ini," katanya.
Sanggar Harum Sari berada di Kampung Cikondang, Kelurahan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang. Hingga saat ini terus fokus dalam melakukan pengembangan kesenian Rampak Bedug.
"Rampak Bedug sudah diresmikan sebagai kesenian di Kabupaten Pandeglang yang diinisiasi Ilen, yang merupakan orangtua saya, Sanggar Harum Sari terus aktif hingga sekarang," jelasnya.
Kesenian Rampak Bedug bernama Ngadu Bedug atau Nganjor hingga saat ini terus dipertahankan. Dalam waktu dekat ini akan diselenggarakan lomba Ngadu Bedug.
"Kehadiran sanggar bukan hanya melestarikan warisan leluhur tetapi juga mencetak generasi penerusnya. Karena memang di sanggar juga membuka latihan Rampak Bedug untuk anak SD, SMP, SMA, perguruan tinggi dan umum," jelasnya.
Endang bersyukur, saat ini anak didiknya sudah banyak tampil di event tertentu, termasuk di acara pemerintahan. Kemudian di acara pernikahan dan acara lainnya. "Dengan begitu diharapkan Rampak Bedug menjadi seni tradisional khas Pandeglang dapat tetap dilestarikan. Sekalipun di era sekarang ini," ungkapnya.
Bagi warga Pandeglang bedug tak sekadar seni dan tradisi akan tetapi juga sebagai simbol kehormatan masyarakatnya.
Rampak Bedug sebagai kesenian yang memperlihatkan kepiawaian menabuh alat musik perkusi dari batang kelapa berbalut kulit kerbau, juga simbol ekspresi kebahagiaan menyambut Lebaran. Selain itu, Rampak Bedug juga dimainkan saat bulan Ramadan menjelang mau Lebaran Idul Fitri.
"Rampak Bedug saat dimainkan bersamaan akan mengeluarkan bunyi indah. Membuat jiwa memiliki rasa semangat," tukasnya.(pur)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GAN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
