DECEMBER 9, 2022
Love Story - Inspirasi

Awalnya Dipaksa, Lama-lama Tersiksa

post-img

Tini (25) nama samaran melangkah cepat menuju ruang persidangan Pengadilan Agama Serang, ia sudah tak sabar menunggu moment ini demi bisa berpisah dengan Juki (29) bukan nama sebenarnya.


Setelah keluar dari ruang sidang, Tini menangis sambil memeluk anak, kakak dan ibunya. Sedangkan Juki terlihat berjalan pergi menuju jalan meninggalkan tempat itu.

“Alhamdulillah, saya bisa resmi cerai, kalau enggak mungkin bisa stres saya berumah tangga sama dia,” kata Tini saat diwawancarai Radar Banten di salah satu warung dekat Gedung Pengadilan Agama Serang, Jumat (12/8) lalu.

Meski Tini kini menjadi janda anak satu, namun ia terlihat tabah dan mensyukuri takdir hidupnya ini. Apalagi, sebentar lagi ia akan ikut bersama kakaknya bekerja ke Tangerang sebagai seles di salah satu perumahan mewah.

Diceritakan, kisah pahitnya ini bermula dua tahun lalu, saat almarhum ayahnya masih hidup dan bersahabat dengan ayah Juki di Pandeglang.

Tini asli Kecamatan Pamarayan, ia tumbuh menjadi wanita yang cantik, mandiri, dan mau bekerja keras. Selama kuliah, Tini sambil jualan dan mengajar di sekolah swasta.

Setelah lulus kuliah, Tini langsung diminta bapaknya menikah dengan Juki. Bagi Tini, jodoh itu tak perlu dicarikan, ia belum mau menikah dan ingin memilih pasangan hidupnya sendiri.

“Saya nolak, tapi bapak terus maksa sampe marah-marah,” katanya.

Tini tak bisa lagi berkutik, ia pasrah dengan keadaan, menikah dengan lelaki yang tidak dicintai. Apalagi, Juki memang tak tampan dan hanya bersekolah sampai tingkat SMP. Kesehariannya hanya main-main dan memotoran.

Mereka pun menikah, Tini tinggal di Pandeglang bersama Juki. Sejak awal rumah tangga, Tini sudah merasa tak nyaman dengan tingkah laku Juki.

“Dia orangnya egois, enggak mau kerja, terus masih kayak anak kecil,” katanya.

Setelah berjalannya hari, Tini pun mulai sadar, kalau orangtuanya Juki menikahkan anaknya ini karena sudah lelah dengan kelakuan Juki yang nakal.

“Mereka curhat ke saya soal Kang Juki, ternyata mereka berharap kalau dengan menikah Juki bakal berubah jadi lebih dewasa,” katanya.

Mendengar itu, Tini makin merasa tersiksa. Apalagi Juki sering marah-marah dan membentak. Tapi Tini berusaha terus bersabar hingga ia melahirkan.

Setelah punya anak, Tini makin merasa tak dipedulikan oleh Juki. Setiap hari pulang malam dalam keadaan mabuk, besoknya pergi lagi dan begitu terus berulang.

Penderitaan Tini makin parah saat ayahnya meninggal dunia karena faktor usia. Akhirnya ia pun mengadu pada kakaknya kalau tak bahagia hidup bersama Juki.

“Ya udah dibantuin sama kakak buat cerai,” katanya.

Ya ampun sabar ya Teh. (drp)