Musang King dan Duri Hitam, Raja Durian yang Bisa Dinikmati di Banten
- by Redaksi
- Sep 16,2022
Saat ini, durian mudah ditemui di hampir seluruh wilayah Banten, terutama Kabupaten Serang, Kota Serang, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Lebak. Bahkan di berbagai status sosial media, foto durian selalu ada. Buah berduri itu saat ini memang sedang musim panen, sehingga dapat didapat di mana saja.
Tapi, bagi para penikmat durian, durian di pasaran tentu bukan sasaran utama.
Durian premium selalu menjadi incaran bahkan ditunggu dengan penuh kesabaran. Nama Musang King tentu tak asing bagi para penggila durian. Meskipun harganya tinggi, Musang King tetap dinanti.
Durian Musang King tidak berasal dari Indonesia. Bibitnya berasal dari Malaysia. Dan durian ini memang sangat dikenal di Malaysia dan Singapura. Dulu, masyarakat Indonesia yang ingin menikmati buah yang disebut sebagai raja durian ini harus pergi di negara asal Upin Ipin tersebut. Namun kini, buah manis legit itu dapat dinikmati di Indonesia, bahkan di Banten tercinta.
Manis, legit, berdaging tebal, tapi memiliki biji kecil adalah ciri khas Musang King. Berbeda dengan durian yang dijual di pasaran, Musang King tak terlalu berbau tajam. Meskipun begitu, soal rasa jangan diragukan. Warna dagingnya yang kuning saja sudah menggoda. Begitu kamu gigit dagingnya, ada sensasi yang lumer dan creamy yang tak bisa dilupakan. Namun di bagian akhir, ada rasa sedikit asin yang tak bisa dijumpai di jenis durian lainnya.
Untuk menikmati durian, kamu harus memakannya secara perlahan dengan mengigit ujung dagingnya sehingga membran yang melapisi buah durian itu pecah. Dagingnya pun akhirnya pecah di lidahmu.
Beda lagi dengan Duri Hitam atau Oci. Durian varietas ini memang saat ini sedang digandrungi. Warnanya lebih oranye atau kemerahan dibandingkan Musang King. Dagingnya pun sama tebalnya. Hanya saja biji Oci lebih besar. Daging Oci lebih padat ketimbang Musang King. Rasanya yang legit dan enak serta warnanya yang menggoda, membuat Oci semakin digemari.
Kini, untuk menikmati dua jenis durian ini, kita tak perlu jauh-jauh ke negeri jiran Malaysia. Cukup sekira setengah jam dari Ibukota Provinsi Banten, kita bisa menikmati durian langsung dari pohonnya.
Berada di atas lahan seluas 3,5 hektare yang berada di Desa Tejamari, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, durian jenis Musang King, Duri Hitam atau Oci, dan Bawor tumbuh subur. Di Kebun Durian Tamora ini, kamu bisa menikmati buah durian premium langsung dari pohonnya.
Namun, kamu tak bisa serta merta menikmati durian yang ada di kebun tersebut. Setiap buah rata-rata sudah ada pemiliknya. Buah di setiap pohon itu sudah dipesan jauh-jauh hari, bahkan saat masih berbentuk bunga.
Hanya saja, bukan mengejar omzet semata. Di kebun ini, setiap orang yang membeli durian premium ini tak bisa dalam jumlah berlebih. Setiap pembelian akan dibatasi agar lebih banyak orang bisa menikmati. “Sekarang adanya untuk panen di Januari-Februari. Kalau yang sekarang, semua sudah ada yang punya,” ungkap pemilik Kebun Durian Tamora Hengky Massie.
Kebun itu berada di sebuah desa. Untuk menuju kesana, jalannya yang sudah dibetonisasi hanya cukup untuk satu mobil saja. Setibanya saja, mata kita akan dimanjakan dengan hamparan pohon durian dengan tinggi sekira 3-4 meter. Dalam satu titik, ada tiga pohon yang ditanam berdampingan, Musang King, Oci, dan Bawor. Ada beberapa pohon yang sudah berbuah besar. Tapi eitssss, tidak bisa dimakan dan dibawa pulang karena sudah punya orang.
Penggemar Musang King di Kebun Durian Tamora ini berasal dari berbagai daerah. Selain dari Indonesia, ada juga orang Malaysia yang sengaja datang hanya untuk menikmati Musang King dari Serang ini.
Hengky mengaku mulai membuat kebun ini sejak 2019 lalu. Namun, pembuatan kebun durian ini bukan sim salabim. Sebelum memutuskan membuat kebun durian, ia telah belajar sejak 1993.
Biaya yang dikeluarkan pun cukup besar. Hanya saja, tanpa ilmu dan pengetahuan, kebun durian tak akan menghasilkan durian yang memukau. Bahkan, apabila di kebun tradisional musim panen hanya dua kali dalam satu tahun, di Kebun Durian Tamora, musim panen dapat terjadi setiap bulan.
“Orang mengira pohonnya banyak, Padahal tidak,” ujarnya. Kata dia, agar pohon durian terus berbuah, maka harus dirawat dengan memberikan nutrisi yang cukup. Bahkan, pupuk yang digunakan juga organik.
Dengan perawatan yang baik, Hengky mengaku buah yang dihasilkan juga tak mengecewakan. Makanya ia tak akan kecewakan pembeli. Buah yang dijual harus layak jual harus memiliki bentuk yang bagus dan berat yang ideal. “Kalau bentuknya pletat pletot tentu tidak dijual. Kita sortir dulu yang layak jual,” terangnya.
Dengan kecakapan perawatan yang menghasilkan buah unggulan, harga untuk durian premium ini memang cukup mahal dibandingkan durian lokal. Untuk jenis Musang King, harga yang dibanderol yakni Rp350 ribu per kilogram (termasuk kulit). Untuk jenis Bawor, Rp150 ribu per kilogram. Sedangkan harga untuk Duri Hitam atau Oci mencapai Rp500 ribu per kilogram.
Meskipun sudah memiliki banyak penggemar, tetapi Hengky tak pelit ilmu. Ia mempersilahkan siapapun untuk belajar berkebun durian dengannya. Tak hanya untuk kepentingan bisnis, para mahasiswa pacsa sarjana juga kerap melakukan penelitian di kebun duriannya.
Selain untuk mneyalurkan hobinya, ia juga ingin kebunnya memiliki kebermanfaatan bagi warga sekitar. Saat ini, ada 16 pekerja dari warga sekitar yang bekerja di kebunnya. Padahal, dengan luas kebunnya itu, ia sebenarnya hanya cukup sekira enam pekerja saja.
Kini, pilihan untuk menikmati jenis durian ada di tangan dan isi dompet kamu. Mau makan durian murah dengan rasa biasa saja, atau jenis durian premium dengan harga mahal dengan rasanya luar biasa yang tak terkira. Pilih mana? Atau jangan-jangan justru tertarik membuat kebun durian sendiri? (nna)
Bela Petani Durian
Selama ini, petani durian hanya menanam jenis durian dengan bibit lokal. Paling tinggi, jenis yang ditanam adalah Monthong. Untuk menikmati Musang King, masyarakat Indonesia harus menyumbang devisa ke negara lain.
Akhirnya, Yayasan Durian Indonesia mendorong agar Musang King disertifikasi sehingga dapat diberikan kepada para petani dari APBN maupun APBD. Selama ini, para petani kesulitan mendapatkan bibit Musang King karena harganya cukup mahal.
Pengurus Yayasan Durian Indonesia Iwan Subakti atau yang dikenal dengan Iwan Nitnet ini mengaku tujuan dorongan agar Musang King disertifikasi adalah agar petani durian maju. Apalagi Musang King memiliki keunggulan dan rasa yang berbeda dari varietas lainnya. “Setifikasi itu akhirnya ada sebelum pandemi Covid-19 yakni sekira 2018-2019 lalu,” ujarnya.
Dengan menanam Musang King, maka masyarakat luar Banten akan datang ke Tanah Jawara ini dengan harapan dapat menumbuhkan perekonomian. Untuk memproteksi pasar dalam negeri, durian juga dilabeli SNI.
Kebun Durian Tamora adalah salah satu kebun percobaan di Banten. Berbeda dengan kebun durian tradisional pada umumnya, kebun Tamora sudah berbuah setiap bulan sejak November 2021.
Meskipun Musang King berasal dari Malaysia, tapi rasa Musang King di Banten jauh lebih enak. Tak percaya? Silahkan coba. Ini membuktikan bahwa petani durian di Banten tak kalah dengan para pengusaha. Untuk itu, Iwan berharap pemerintah tak hanya menyentuh pengusaha, tapi juga para petani yang selama ini belum tersentuh. (nna)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GEN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
