DECEMBER 9, 2022
Love Story - Inspirasi

Curiga Itu Bukti Cinta, Tapi Enggak Begitu Juga

post-img

Saat miskin Udin (43) dan Ebah (40), keduanya nama samaran sih masih bisa harmonis, tapi ketika kaya, malah menderita karena istri selalu curigaan, setiap hari selalu ada saja keributan yang bikin meringis.

“Kata orang sih istri saya bersikap begitu karena saking cinta mati dan enggak mau kehilangan saya, tapi kan malah bikin enggak nyaman,” keluh Udin saat ditemui Radar Banten di salah satu masjid di Kecamatan Bojonegara, Rabu (17/8).

Menurut Udin, kalau belum kuat mental apalagi modal, lebih baik jangan dulu menikah. Soalnya, apa yang dibayangkan indahnya pernikahan ternyata tak sesuai dengan kenyataan. Bukan cuma urusan ekonomi, tapi juga kesabaran menghadapi tingkah pasangan.

Kalau bukan karena cinta setengah mati, kata Udin, mungkin ia sudah tak tahan dengan sikap Ebah. Mulai dari masih suka dimanja, sampai cemburuan yang kadang bikin emosian, semua dinikmati Udin sebagai bagian dari komitmen membangun bahtera rumah tangga.

Maklumlah, sejelek-jeleknya sikap Ebah, tapi bagi, Udin semua terasa indah. Soalnya, Ebah memang cantik sempurna, kulitnya putih merona, bodinya seksi, tapi tetap menjaga aurat dengan selalu memakai pakaian tertutup. “Boleh terbukanya pas lagi di rumah aja, di luar mah enggak boleh,” tegas Udin.

Udin sendiri tak kalah rupawan, lelaki berbadan tinggi besar ini bekerja di perusahaan ternama di Cikande. Ia mampu menafkahi keluarga dengan sangat berkecukup­an, mulai dari rumah, kendaraan pri­badi, sampai aset berupa tanah dan emas berlian. “Waktu awal rumah tangga mah saya juga kere, sejak punya anak aja rezeki lancar,” ungkapnya.

Rumah tangga mereka awalnya harmonis meski ekonomi masih merintis. Biasalah, Namanya pengantin baru mah hidup susah pun terasa indah. Meski masih menumpang di rumah mertua, tapi bawaannya senang saja karena setiap malam, tidur ada yang menemani, mau makan pun ada yang menyediakan.

Hingga dua tahun berjalan rumah tang­ga, mereka dikaruniai buah hati. Saat itu Udin yang awalnya bekerja ma­sih dengan status out souching, langsung diangkat menjadi karyawan tetap. Saat anaknya mulai tumbuh balita, lantaran semangat kerja yang terus ditingkatkan, ia mendapat promosi jabatan sebagai Kepala Pemasaran.

Sejak itulah ekonomi mereka mulai meningkat, bisa membeli rumah sendiri, membeli mobil bahkan Ebah selalu diberi hadiah emas berlian saat ulang tahun. Pokoknya, mereka semakin harmonis. “Jadi memang bener, kalau mau bahagia, ya harus kaya,” kata Udin.

Tapi seiring dengan meningkatnya jabatan, porsi kerja dan tanggung jawab Udin pun bertambah. Apalagi jika sedang ada kegiatan besar, sebagai Kepala Pemasaran ia wajib hadir dan stand by kapan pun dan di mana pun. Karena itu, tak jarang ia sering pulang larut malam bahkan sampai tak pulang tiga hari.

Pernah suatu hari, Udin pulang malam diantar wanita cantik dan seksi yang tak lain asistennya di kantor. Berawal dari situlah masalah datang, Ebah yang sering menonton sinetron, ditambah tersugesti omongan ibu-ibu tetangga tentang suami yang suka main Wanita kalau di luar rumah, membuatnya terpengaruh dan sering curigaan pada Udin.

Setiap ada di rumah, Ebah langsung memeriksa ponsel Udin. Membaca isi percakapan di WhatsApp, kemudian langsung ngambek saat ada pesan dari sekretaris dan bawahan yang merupakan wanita cantik. Kalau sudah begitu, Ebah bakal marah-marah. “Saya sudah capek kerja, eh di rumah malah dituduh yang macem-macem,” keluhnya.

Bukan cuma itu, biasanya Ebah juga sengaja mengunci pintu kalau Udin pulang di atas jam 12 malam. Ujung-ujungnya Udin bermalam di rumah saudara, akibatnya, munculah omongan tak sedap soal rumah tangga mereka. “Padahal saya sudah jelasin baik-baik ke istri soal kerjaan, tapi enggak mau denger,” keluhnya.

Belum lagi kalau Ebah sedang sakit, Udin pasti tidak boleh pergi ke mana-mana. Ia harus menemani sang istri seharian. Jika memaksa pergi, Ebah bakal ngamuk dan ngomong yang macam-macam ke keluarganya. “Jadi sekarang mah saya pasrah saja deh,” tutup Udin.

Ya ampun, sabar ya Kang. (drp)