DECEMBER 9, 2022
Kab Serang

Tujuh Pasien DBD Meninggal Dunia

post-img

SERANG - Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat per Januari hingga akhir Juli kasus demam berdarah dengue (DBD) mencapai 143 kasus. Tujuh di antaranya meninggal dunia.

Sekadar diketahui, DBD merupakan penyakit demam serius yang ditularkan oleh nyamuk betina aedes aegypti yang menyerang sistem peredaran darah manusia. Penyakit ini dapat menyebabkan meninggal dunia.

Pengelola Program DBD pada Dinkes Kabupaten Serang Pipih Saripah menga­takan, dari 143 kasus DBD tujuh diantara­nya meninggal dunia. DBD paling banyak ditemukan di Kecamatan Cikande dengan 22 kasus.

Ia memaparkan, tujuh pasien DBD yang meninggal dunia itu di Kecamatan Cikande satu orang, Kecamatan Jawilan satu orang, Kecamatan Cikeusal satu orang, Kecamatan Pamarayan satu orang, Kecamatan Pulo­ampel satu orang, Kecamatan Kramatwatu satu orang dan Kecamatan Tirtayasa satu orang.

Tahun sebelumnya, Dinkes mencatat ada 151 kasus DBD selama Januari hingga Desem­ber 2021. Dari jumlah kasus itu tiga orang meninggal dunia. "Tahun kemarin paling banyak ditemukan di Kecamatan Ciruas dengan 17 kasus," katanya, Selasa (23/8).

Jika dibandingkan dengan tahun lalu, kata Pipih, kasus DBD tahun ini bisa saja meningkat. Karena, sejak Januari hingga Juli saja sudah 143 kasus. Sementara, tahun lalu satu tahun penuh 151 kasus.

Meski demikian, pihaknya berharap tidak ada penambahan kasus DBD. Pihaknya saat ini tengah berupaya mela­kukan pencegahan serta pemberantasan sarang nyamuk. 

Upaya yang dilakukan di antaranya menyosialisasikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) kepada masyarakat, mengaktifkan kader juru pemantau jentik (Jumantik) yang dilakukan oleh Puskesmas ke setiap rumah, dan melakukan penyem­protan fogging fokus ke wilayah yang teridentifikasi adanya sarang nyamuk.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kabupaten Serang Agus Sukmayadi mengatakan, musim kemarau basah dapat memengaruhi adanya jentik nyamuk pada genangan air. Dari jentik nyamuk itu, muncul nyamuk aedes aegypti yang menyebabkan DBD.

“Kesadaran masyarakat untuk hidup sehat lebih penting, menjaga lingkungannya tetap bersih itu butuh proses. Tujuannya, untuk menghindari gigitan nyamuk DBD,” katanya.

Ia menilai, penerapan PHBS masyarakat Kabupaten Serang masih rendah. Hal itu dilihat dari meningkatnya kasus DBD tahun ini. “Sosialisasi PHBS terus kita lakukan,” ujarnya. (jek)