DECEMBER 9, 2022
Utama

Berzikir dan Berpikir : Untuk Kemajuan Peradaban

post-img

Oleh: Prof Dr Dodi Nandika

Di dalam Al-Qur’an, anjuran untuk meng­ingat Allah SWT de­ngan maksud men­de­katkan diri ke­pada-Nya (berdzikir), sa­ngatlah banyak, di­an­ta­ranya tertuang da­lam surat Al-Baqarah: 152, Al-Anfal: 45, Ar-Ra’d: 26, Al-Ahzab: 41, 45 35, Al-A’raf: 201, At-Thur: 49, dan lain-lain).

Yang menarik, anjuran dalam Al-Qur’an untuk mengingat Allah SWT tersebut, sangat sering dikaitkan dengan anjuran kepada manusia untuk menggunakan nalarnya alias berpikir.

Coba saja simak pernyataan Sang Khalik dalam surat Al-Imran ayat 190-191 yang berbunyi “Sesungguhnya dalam penciptaan la­ngit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi ulil albab (orang yang berakal), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang pe­n­ciptaan langit dan bumi (seraya ber­kata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau men­ciptakan semua ini sia-sia’”.

Pernyataan Sang Khalik ini mengandung pesan kepada manusia sebagai mahluk yang diberi akal oleh-Nya untuk mau dan mampu menggunakan akalnya itu, untuk memanfaatkan kemampuan nalar­nya itu, dalam menemu-kenali tanda-tanda eksistensi dan kebesaran-Nya.

Bahkan, secara implisit, Allah SWT me­nya­takan bahwa seorang insan dikatakan se­bagai ulil albab jika dia senantiasa ber­dzikir sekaligus berpikir tentang eksistensi dan ke-Maha Kuasa-an Allah SWT.

Mengapa Allah SWT mendorong manusia untuk berdzikir sekaligus berpikir? Apa ge­rangan kontribusi proses berpikir ter­hadap efektivitas dzikir, dan sebaliknya, apa pengaruh berdzikir terhadap kinerja ber­pikir seorang insan?

Apakah berdzikir dan berpikir dapat me­nuntun manusia untuk menjadi rah­matan lil alamin? Tentu banyak jawaban atas pertanyaan tersebut. Yang jelas, ka­rena manusia diperintah oleh-Nya untuk membaca semua bekas kalam-Nya di alam semesta ini, maka wajar jika manusia di­lengkapi oleh Allah dengan akal untuk ber­pikir dan memburu pengetahuan.

Wajar juga Allah mengajarkan nama-nama berbagai benda dan fenomena ke­pada Adam, sebagai modal awal penge­tahuannya, karena Adam memang di­cip­takan sebagai mahluk yang mampu ber­pikir.

Dengan kemampuan menggunakan akalnya itulah Adam dan keturunannya terus memupuk pengetahuannya serta me­ngajarkannya dari satu geneasi ke ge­nerasi berikutnya. Melalui ketajaman berpikir, melalui kemampuan menemu-kenali (discovered, identified) tanda-tanda eksistensi dan kebesaran-Nya, wajar jika dalam jiwa dan hati manusia kemudian tum­buh kesadaran untuk mengakui eksis­tensi dan ke-Mahakuasaan Allah.

Kesadaran itulah yang kemudian men­stimulasi hati dan pikiran insan untuk senantiasa mengingat-Nya. Bahkan dengan me­nemu-kenali tanda-tanda kebesaran-Nya, manusia juga akan ridho merunduk, me­rendahkan dirinya, dalam atmosfir ke­kuasaan Allah, serta ridho untuk mentaati segala petunjuk-Nya. Itulah makna hakiki dari dzikir.

Secara tersirat tampaknya Al Qur’an me­­mang memberikan petunjuk bahwa proses menemu-kenali eksistensi Allah SWT akan efektif jika manusia meng­gu­nakan akalnya, jika manusia mengop­ti­mal­kan jati dirinya sebagai ulul albab.

Akal tampaknya sengaja di-install oleh Allah SWT pada diri manusia agar manusia lebih mampu menemu-kenali tanda-tanda kebesaran-Nya. Metode untuk me­nemu-kenali tanda-tanda eksistensi dan kebedaran Allah secara lebih kom­pre­hensif dan mendalam memang perlu du­kungan akal.

Jadi, agak musykil rasanya, kalau manusia berupaya memahami keagungan Allah tanpa menggunakan nalarnya. Oleh karena itu potensi dan kandungan akal manusia perlu terus diperkuat, antara lain dengan be­lajar sepanjang hayat.

Ini sesuai dengan ungkapan yang sering kita dengar: “Belajarlah atau tuntulah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat”. Bah­kan dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah SAW bersabda “Tuntutlah ilmu walau sam­­pai ke negeri Cina”.

Dari arahan Rasulullah tersebut jelaslah bahwa Islam merupakan agama yang menganjurkan manusia untuk terus belajar, terus memburu pengetahuan dan ilmu penge­tahuan. Cermatilah firman pertama Allah SWT dalam Al Qur’an, surah Al-Alaq ayat 1-5 : “Bacalah atas nama penciptamu; yang telah menciptakan manusia dari se­gumpal nutfah; bacalah! Dan Tuhanmu Sa­ngat Pemurah; yang telah mengajarkan peng­gunaan kalam; mengajari manusia hal-hal yang tidak diketahui olenya”.

Namun, membaca selayaknya dimaknai lebih luas, tidak saja membaca teks, tetapi juga membaca konteks dan menelaah ber­bagai fenomena alam. Membaca se­layak­nya dimaknai sebagai proses me­nambah pengetahuan dan ilmu penge­ta­huan.

Mempelajari teks dan mengamati konteks me­rupakan aktivitas pembelajaran yang luar biasa. Banyak kisah dalam Al-Qur’an yang seharusnya menjadi bahan pelajaran untuk dapat menjalani kehidupan yang penuh ridho-Nya.

Namun sangat mungkin hanya ulul albab yang mampu belajar dari kisah-kisah tersebut. Allah berfirman dalam QS : Yusuf ayat 111, yang artinya: “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal”. Sosok ulul albab ialah sosok pembelajar sejati karena terus berpikir dan berpikir sehingga mengakumulasi ilmu yang didapatkan untuk diamalkan.

Itulah mengapa Allah SWT berjanji meningkatkan derajat orang-orang yang berilmu, tidak lain karena orang-orang yang berilmu inilah yang diharapkan bisa terus menebar rahmat di muka bumi. Orien­tasi ajaran Islam antara lain memang menghimpun pengetahuan untuk ke­ma­juan peradaban; untuk mewujudkan rah­matan lil alamin. Oleh karena itu dalam ajaran Islam, penguasaan pengetahuan di jalan Allah dinilai sebagai harta yang tak ternilai harganya.

Demikian tinggi nilai pengetahuan itu sehingga orang yang tidak menggunakan pe­ngetahuannya disamakan martabatnya dengan dengan ternak (QS Al-A’raf: 179)

Jadi, jelaslah bahwa tugas yang di­bebankan Allah SWT kepada manusia se­bagai pewaris-Nya di bumi harus menjadi pendorong bagi manusia untuk selalu me­nambah pengetahuannya, menambah ilmunya. Orang-orang yang berilmulah yang bisa merancang arah perubahan sosial.

Namun, yang membedakan antara ulul albab dan pembelajar biasa ialah ke­seim­bangan mereka pada aktivitas berdzikir dan berpikir. Intensitas dzikir membuat se­orang ulul albab menyadari bahwa ilmu­nya sangat terbatas, ibarat setetes air di dalam lautan.

Sikap rendah hati inilah yang akan terus men­dorong ulul albab untuk belajar dan be­lajar, serta berpikir dan terus berpikir. Sikap rendah hati itu ialah buah dari ke­sadaran penuh bahwa ilmu Allah mahaluas dan kesadaran itu tertanam se­bagai hasil dari proses dzikir yang ber­kualitas.(*)


Penulis adalah Ajunct Professor, IPB University; Anggota Dewan Pakar MUI Banten