Oleh: Prof Dr Dodi Nandika
Di dalam Al-Qur’an, anjuran untuk mengingat Allah SWT dengan maksud mendekatkan diri kepada-Nya (berdzikir), sangatlah banyak, diantaranya tertuang dalam surat Al-Baqarah: 152, Al-Anfal: 45, Ar-Ra’d: 26, Al-Ahzab: 41, 45 35, Al-A’raf: 201, At-Thur: 49, dan lain-lain).
Yang menarik, anjuran dalam Al-Qur’an untuk mengingat Allah SWT tersebut, sangat sering dikaitkan dengan anjuran kepada manusia untuk menggunakan nalarnya alias berpikir.
Coba saja simak pernyataan Sang Khalik dalam surat Al-Imran ayat 190-191 yang berbunyi “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi ulil albab (orang yang berakal), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia’”.
Pernyataan Sang Khalik ini mengandung pesan kepada manusia sebagai mahluk yang diberi akal oleh-Nya untuk mau dan mampu menggunakan akalnya itu, untuk memanfaatkan kemampuan nalarnya itu, dalam menemu-kenali tanda-tanda eksistensi dan kebesaran-Nya.
Bahkan, secara implisit, Allah SWT menyatakan bahwa seorang insan dikatakan sebagai ulil albab jika dia senantiasa berdzikir sekaligus berpikir tentang eksistensi dan ke-Maha Kuasa-an Allah SWT.
Mengapa Allah SWT mendorong manusia untuk berdzikir sekaligus berpikir? Apa gerangan kontribusi proses berpikir terhadap efektivitas dzikir, dan sebaliknya, apa pengaruh berdzikir terhadap kinerja berpikir seorang insan?
Apakah berdzikir dan berpikir dapat menuntun manusia untuk menjadi rahmatan lil alamin? Tentu banyak jawaban atas pertanyaan tersebut. Yang jelas, karena manusia diperintah oleh-Nya untuk membaca semua bekas kalam-Nya di alam semesta ini, maka wajar jika manusia dilengkapi oleh Allah dengan akal untuk berpikir dan memburu pengetahuan.
Wajar juga Allah mengajarkan nama-nama berbagai benda dan fenomena kepada Adam, sebagai modal awal pengetahuannya, karena Adam memang diciptakan sebagai mahluk yang mampu berpikir.
Dengan kemampuan menggunakan akalnya itulah Adam dan keturunannya terus memupuk pengetahuannya serta mengajarkannya dari satu geneasi ke generasi berikutnya. Melalui ketajaman berpikir, melalui kemampuan menemu-kenali (discovered, identified) tanda-tanda eksistensi dan kebesaran-Nya, wajar jika dalam jiwa dan hati manusia kemudian tumbuh kesadaran untuk mengakui eksistensi dan ke-Mahakuasaan Allah.
Kesadaran itulah yang kemudian menstimulasi hati dan pikiran insan untuk senantiasa mengingat-Nya. Bahkan dengan menemu-kenali tanda-tanda kebesaran-Nya, manusia juga akan ridho merunduk, merendahkan dirinya, dalam atmosfir kekuasaan Allah, serta ridho untuk mentaati segala petunjuk-Nya. Itulah makna hakiki dari dzikir.
Secara tersirat tampaknya Al Qur’an memang memberikan petunjuk bahwa proses menemu-kenali eksistensi Allah SWT akan efektif jika manusia menggunakan akalnya, jika manusia mengoptimalkan jati dirinya sebagai ulul albab.
Akal tampaknya sengaja di-install oleh Allah SWT pada diri manusia agar manusia lebih mampu menemu-kenali tanda-tanda kebesaran-Nya. Metode untuk menemu-kenali tanda-tanda eksistensi dan kebedaran Allah secara lebih komprehensif dan mendalam memang perlu dukungan akal.
Jadi, agak musykil rasanya, kalau manusia berupaya memahami keagungan Allah tanpa menggunakan nalarnya. Oleh karena itu potensi dan kandungan akal manusia perlu terus diperkuat, antara lain dengan belajar sepanjang hayat.
Ini sesuai dengan ungkapan yang sering kita dengar: “Belajarlah atau tuntulah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat”. Bahkan dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah SAW bersabda “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”.
Dari arahan Rasulullah tersebut jelaslah bahwa Islam merupakan agama yang menganjurkan manusia untuk terus belajar, terus memburu pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Cermatilah firman pertama Allah SWT dalam Al Qur’an, surah Al-Alaq ayat 1-5 : “Bacalah atas nama penciptamu; yang telah menciptakan manusia dari segumpal nutfah; bacalah! Dan Tuhanmu Sangat Pemurah; yang telah mengajarkan penggunaan kalam; mengajari manusia hal-hal yang tidak diketahui olenya”.
Namun, membaca selayaknya dimaknai lebih luas, tidak saja membaca teks, tetapi juga membaca konteks dan menelaah berbagai fenomena alam. Membaca selayaknya dimaknai sebagai proses menambah pengetahuan dan ilmu pengetahuan.
Mempelajari teks dan mengamati konteks merupakan aktivitas pembelajaran yang luar biasa. Banyak kisah dalam Al-Qur’an yang seharusnya menjadi bahan pelajaran untuk dapat menjalani kehidupan yang penuh ridho-Nya.
Namun sangat mungkin hanya ulul albab yang mampu belajar dari kisah-kisah tersebut. Allah berfirman dalam QS : Yusuf ayat 111, yang artinya: “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal”. Sosok ulul albab ialah sosok pembelajar sejati karena terus berpikir dan berpikir sehingga mengakumulasi ilmu yang didapatkan untuk diamalkan.
Itulah mengapa Allah SWT berjanji meningkatkan derajat orang-orang yang berilmu, tidak lain karena orang-orang yang berilmu inilah yang diharapkan bisa terus menebar rahmat di muka bumi. Orientasi ajaran Islam antara lain memang menghimpun pengetahuan untuk kemajuan peradaban; untuk mewujudkan rahmatan lil alamin. Oleh karena itu dalam ajaran Islam, penguasaan pengetahuan di jalan Allah dinilai sebagai harta yang tak ternilai harganya.
Demikian tinggi nilai pengetahuan itu sehingga orang yang tidak menggunakan pengetahuannya disamakan martabatnya dengan dengan ternak (QS Al-A’raf: 179)
Jadi, jelaslah bahwa tugas yang dibebankan Allah SWT kepada manusia sebagai pewaris-Nya di bumi harus menjadi pendorong bagi manusia untuk selalu menambah pengetahuannya, menambah ilmunya. Orang-orang yang berilmulah yang bisa merancang arah perubahan sosial.
Namun, yang membedakan antara ulul albab dan pembelajar biasa ialah keseimbangan mereka pada aktivitas berdzikir dan berpikir. Intensitas dzikir membuat seorang ulul albab menyadari bahwa ilmunya sangat terbatas, ibarat setetes air di dalam lautan.
Sikap rendah hati inilah yang akan terus mendorong ulul albab untuk belajar dan belajar, serta berpikir dan terus berpikir. Sikap rendah hati itu ialah buah dari kesadaran penuh bahwa ilmu Allah mahaluas dan kesadaran itu tertanam sebagai hasil dari proses dzikir yang berkualitas.(*)
Penulis adalah Ajunct Professor, IPB University; Anggota Dewan Pakar MUI Banten
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GEN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
- NUSANTARA metro disway
- FOKUS DISWAY
